Text post

Back To Middle Earth: A Very Predicted Journey

image

Lebih dari satu dekade lalu kita dibawa oleh seorang Kiwi ke dalam petualangan menakjubkan melalui The Lord of The Rings: The Fellowship of The Ring. Kisah mengenai 9 orang pembawa cincin ini tidak hanya berhasil memukau penontonnya secara visual, namun juga memiliki bobot cerita yang kuat hasil dari naskah sang sutaradara, Peter Jackson bersama kolaboratornya Fran Walsh dan Philippa Boyens berdasarkan buku pertama dari trilogi The Lord of The Rings karya J. R. R Tolkien. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan film kedua yang memiliki sub-judul The Two Towers yang menghadirkan salah satu rangkaian adegan pertempuran paling epik dalam sejarah film melalui segmen The Battle of Helms Deep. Peribahasa save the best for last mungkin paling tepat ditujukan pada bagian trilogi ini. The Return of The King tidak hanya sukses secara komersil, namun juga meraih 11 Oscar dalam ajang penghargaan Academy Awards tahun 2004. Rekor ini bertambah manis, karena 11 Oscar tersebut berasal dari 11 nominasi yang didapatkan oleh The Return of The King. Total, ketiga film ini mendapatkan 17 Oscar dan pendapatan hingga mencapai 2.9 Miliar Dollar di seluruh dunia.

Middle Earth adalah dunia yang menyenangkan. Walau kegelapan melandanya, mengunjungi Middle Earth adalah sebuah keajaiban yang sulit untuk dilepas dan dilupakan. Dan di penghujung tahun ini, Peter Jackson membuka kesempatan bagi kita untuk kembali mengunjungi Middle Earth. Tidak melalui trilogi The Lord of The Rings, melainkan prequelnya, The Hobbit.

The Hobbit: An Unexpected Journey mengisahkan petualangan Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan 13 kurcaci beserta Gandalf The Grey (Sir Ian McKellen) untuk merebut kembali tanah milik para kurcaci di Lonely Mountain yang disebut Erebor, yang direbut oleh seekor naga bernama Smaug. Tidak hanya merebut tempat tinggal para kurcaci tersebut, Smaug pun akhirnya menjadi penguasa bagi seluruh harta yang ada di Erebor. Thorin (Richard Armitage) merupakan pemimpin dari kawanan kurcaci ini, yang merupakan keturunan terakhir dari Durin, pembawa darah raja-raja kurcaci. Kelompok kurcaci yang sudah bertekad merebut kembali tanah kelahiran mereka masih membutuhkan satu orang yang bertindak sebagai pencuri dalam misi itu, dan Gandalf pun menggiring mereka kepada Bilbo yang sama sekali tidak menyukai petualangan, walau sesungguhnya memiliki hasrat untuk itu. Bilbo akhirnya terlibat dalam sebuah petualangan di mana ia tidak mengetahui bahaya dan malapetaka apa yang akan dihadapinya nanti; termasuk pertemuannya dengan Smeagol/Gollum dan penemuan sebuah benda yang memiliki kekuatan besar.

Seperti telah saya sebut, mengunjungi Middle Earth adalah sebuah keasyikan tersendiri. Seolah setiap bagiannya terbentuk dengan aura keajaiban yang kuat. Namun, tampaknya Jackson, Walsh, Boyens, dan Guillermo del Toro terjebak dalam patron berkisah yang sama dengan trilogi The Lord of The Rings, sehingga The Hobbit: An Unexpected Journey hadir dalam struktur yang kurang memberikan efek kejut bagi penontonnya. Ya, penggemar setia tetap akan datang untuk menyaksikan filmnya demi kembali datang ke Middle Earth. Namun mungkin penonton awam yang sekedar mencari hiburan akan merasa bosan dan lelah dengan durasinya. Sisi baiknya, An Unexpected Journey hadir dengan tampilan visual yang luar biasa memukau. Kemajuan teknologi visual effects dalam satu dekade terakhir memberikan WETA kesempatan untuk berekplorasi lebih jauh dalam membangun Middle Earth. WETA seolah telah menjadi pelukis yang sangat-sangat mahir demi menghadirkan kehalusan efek visual di film ini. Sorotan tentu saja ada pada karakter Gollum (Andy Serkis melalui motion capture) yang semakin halus tampilannya, semakin luwes pergerakannya, dan semakin tertangkap gejolak emosinya. Dan penggunaan 3D pun benar-benar dimaksimalkan oleh Jackson dalam menyampaikan ceritanya. Walau dikonversi saat proses post-production, Jackson dan cinematographer Andrew Lesnie tampaknya sudah benar-benar mempersiapkan segalanya sejak awal, sehingga scene-scene yang ada, hadir layaknya relief dengan warna-warna indah dan penuh kedalaman.

The Hobbit: An Unexpected Journey merupakan bagian pertama dari 3 film trilogi The Hobbit yang direncanakan tayang setiap tahun mulai tahun 2012 ini. Peter Jackson memutuskan membagi film ini menjadi 3 bagian, di mana film kedua masih memuat cerita dari novelnya, sementara film ke-3 dikatakan akan memuat cerita dari appendix dan sumber-sumber lain di luar novelnya. Sebuah langkah berani yang dipandang sebagian pecinta novel dan film hanya sebagai kesempatan mengeruk uang.

Bagaimana tidak? Jika trilogi The Lord of The Rings dibagi menjadi 3 film dari 3 buku yang masing-masing memiliki tebal kurang lebih 500 halaman; maka The Hobbit dibagi menjadi 3 film dari sebuah buku dengan tebal yang hanya mencapai 348 halaman (edisi Gramedia Pustaka Utama). Keberanian dan kecerdasan Jackson dalam memecah cerita ini menjadi 3 bagian, patut diacungi jempol. Namun apakah hal tersebut perlu? Saya rasa tidak. Efek pembagian 1 buku menjadi 3 film ini sangat terasa pada saat kita menyaksikan The Hobbit: An Unexpected Journey. Film ini terasa membosankan di beberapa bagian. Hal ini pun diperparah dengan durasi yang mencapai 169 menit, atau hampir mencapai 3 jam! An Unexpected Journey seolah terlalu bertele-tele dalam bercerita, belum lagi penampilan beberapa karakter dari trilogi The Lord of The Rings seperti Galadriel dan Saruman yang terkesan dipaksakan hadir demi memberikan hubungan dengan trilogi The Lord of The Rings. Pertempuran akhir dari sub-plot dendam Orc kepada Thorin pun terasa sangat melelahkan. Jackson seperti ngos-ngosan dalam mengatur pace pertempuran tersebut. Tidak seperti Battle of Helms Deep dan Battle of Pelennor Fields yang terasa sangat luar biasa karena Jackson seperti menghela keduanya dalam satu tarikan nafas; maka dalam pertempuran di ujung An Unexpected Journey, Jackson seperti banyak berhenti untuk menghela nafas untuk kemudian bertarung lagi. Dan itu terjadi berulang kali sebelum akhirnya pertempuran tersebut ditutup.

Trilogi The Lord of the Rings mampu memberikan keajaiban karena kemampuannya dalam mendobrak banyak batas di dunia film saat itu. Apakah itu melalui visual effectsnya dan penggambarannya akan Middle Earth; translasi buku menjadi naskah oleh Jackson, Walsh, dan Boyens; atau genrenya yang membutuhkan kerja keras untuk diwujudkan, terlebih untuk diakui kualitasnya oleh banyak pihak. Melalui An Unexpected Journey, Jackson seolah berharap, dengan formula yang sama, dia bisa memberikan magis serupa dengan yang pernah dihadirkannya. Namun sayang, patron tersebut terasa repetitif, terlebih di masa di mana teknologi efek visual begitu maju dan genre film fantasi hampir setiap saat diproduksi. An Unexpected Journey akhirnya menjelma menjadi sajian visual cantik nan epik, namun seringkali kelelahan dalam bercerita dan menunjukkan emosinya. Semoga Jackson dapat memberikan sesuatu yang benar-benar berbeda melalui The Desolation of Smaug di 2013 dan There and Back Again di 2014.

Directed by Peter Jackson
Screenplay by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro
Based on The Hobbit by J. R. R. Tolkien
Starring Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Andy Serkis, Benedict Cumberbatch,
Music by Howard Shore
Cinematography Andrew Lesnie
Editing by Jabez Olssen
Release date 14 December 2012

Note: Review serupa ditampilkan juga di laman Layar Tancep.

  1. ayashine reblogged this from hereismyreview
  2. hereismyreview posted this