Text post

Back To Middle Earth: A Very Predicted Journey

image

Lebih dari satu dekade lalu kita dibawa oleh seorang Kiwi ke dalam petualangan menakjubkan melalui The Lord of The Rings: The Fellowship of The Ring. Kisah mengenai 9 orang pembawa cincin ini tidak hanya berhasil memukau penontonnya secara visual, namun juga memiliki bobot cerita yang kuat hasil dari naskah sang sutaradara, Peter Jackson bersama kolaboratornya Fran Walsh dan Philippa Boyens berdasarkan buku pertama dari trilogi The Lord of The Rings karya J. R. R Tolkien. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan film kedua yang memiliki sub-judul The Two Towers yang menghadirkan salah satu rangkaian adegan pertempuran paling epik dalam sejarah film melalui segmen The Battle of Helms Deep. Peribahasa save the best for last mungkin paling tepat ditujukan pada bagian trilogi ini. The Return of The King tidak hanya sukses secara komersil, namun juga meraih 11 Oscar dalam ajang penghargaan Academy Awards tahun 2004. Rekor ini bertambah manis, karena 11 Oscar tersebut berasal dari 11 nominasi yang didapatkan oleh The Return of The King. Total, ketiga film ini mendapatkan 17 Oscar dan pendapatan hingga mencapai 2.9 Miliar Dollar di seluruh dunia.

Read More

Text post

Bullhead: Inside, We’re All Animals

image

Sometimes things happen in life that turn everybody silent. So silent that nobody dares to talk about it anymore. To no one. Not even themselves. Not in their own head, not aloud, not a fucking word. Because everything has been lingering. There deep in those fields, year after year. But out of the blue it is all back. Just like that, from one day to another. It may be ever so long ago, there is always someone who digs it up again. Whatever you do, and whatever you think, one thing you can be sure of: You’re always fucked. Now, tomorrow, next week and next year, until the end of time.

Fucked.

Apa yang akan anda lakukan, jika anda dihadapkan kembali pada sebuah trauma masa lalu yang sebelumnya telah dengan susah payah anda lupakan? Apakah anda akan terus meredamnya, melawannya, atau justru akhirnya anda akan berdamai dengannya? Pertanyaan itu merupakan salah satu pertanyaan yang menyeruak di tengah banyaknya lapisan kisah yang termuat pada film besutan Michaël R. Roskam, Bullhead.

Read More

Text post

Wreck-It Ralph: Visualisasi Manis Sikap Gelap Manusia

image

Bagaimana jika para karakter video game ternyata memiliki ‘kehidupannya’ sendiri setelah game arcade (pusat permainan) tutup di malam harinya? Bagaimana jika mereka memiliki perasaan dan bisa berkeluh kesah? Hal inilah yang diangkat film animasi CGI arahan Rich Moore, Wreck-It Ralph.

Ralph (John C. Reilly) merupakan nama salah satu karakter permainan video di pusat permainan Litwak’s Arcade. Malam hari di Litwak’s Arcade tidaklah sama dengan tempat lainnya, di mana para karakter video game meninggalkan ‘pekerjaan’ mereka pada video game mereka, dan bisa bersosialisasi dengan karakter video game lainnya dengan mengunjungi console game satu sama lainnya. Namun sayangnya, layaknya kehidupan manusia, para penjahat di video game akan terus menerus dicap sebagai penjahat dan ditakuti oleh banyak karakter ‘baik’. Hal inilah yang dikeluhkan oleh Ralph dari game Fix It Felix Jr. Ralph merasa, sebagai karakter jahat yang diprogram untuk bertugas menjadi penghancur gedung pada gamenya, dia selalu dijauhi banyak orang dan kesepian. Padahal Ralph sendiri sesungguhnya ingin berteman dengan orang lain (dan mendapatkan medali), dan pekerjaan yang dilakukannya hanyalah sebatas pekerjaan, bukan dirinya yang sesungguhnya.

Read More

Text post

Paperman: Kesederhanaan Cinta Yang Menggugah

image

Jika ada film yang begitu sederhana namun sangat menyentuh perasaan saya tahun ini, itu adalah Paperman. Paperman merupakan film animasi pendek yang disutradarai oleh John Kahrs. Memadukan cel animation dan CGI animation, Paperman bisa dikatakan sebagai sebuah pertanda bahwa film animasi gambaran tangan (cel-animation) masih memiliki tempat dan bisa berbicara banyak di tengah gempuran film animasi full CGI. Paperman sendiri diputar secara luas di depan film Wreck-It Ralph, salah satu animated feature rilisan Disney. Akan tetapi saya merasa harus membuat ulasan terpisah untuk Paperman, karena film seluar biasa ini patut diberikan tempatnya sendiri.

Read More

Text post

Skyfall: A Perfect Blend of Old and New

image

The old ways are sometimes the best. (Eve)

Jadi, mana yang lebih baik? Cara lama atau cara baru? Menurut Sam Mendes, gabungan keduanya adalah yang terbaik, dan hal itulah yang dilakukan Mendes untuk mepresentasikan film Bond ke-23 ini. Setelah Quantum of Solace (2008), franchise Bond sempat terancam hidupnya akibat pengajuan status bangkrut MGM. Namun perlahan tapi pasti, MGM bangkit untuk kemudian bekerjasama lagi dengan Sony dalam mewujudkan salah satu instalment terbaik dari franchise 007 ini. Hal ini menjadikan Skyfall salah satu film Bond yang memiliki jeda waktu terpanjang dengan film sebelumnya. Satu lagi film Bond yang memiliki jeda waktu terpanjang dengan film pendahulunya adalah Casino Royale (2006) yang memiliki selisih waktu tayang 4 tahun dengan Die Another Day di tahun 2002.

Skyfall sendiri merupakan judul original yang tidak diambil dari karya Ian Fleming. Dalam film ke-23 ini, Daniel Craig kembali untuk ketiga kalinya memerankan karakter mata-mata paling ternama di dunia film ini. Jika pada dua kisah sebelumnya Craig berjibaku dengan organisasi Quantum, pihak produser, penulis cerita, dan tentunya Mendes kini mengambil langkah untuk meninggalkan Quantum dan membawa Skyfall ke arah yang berbeda. Ya, berbeda adalah kata yang tepat. Karena, walau Bond tetap tokoh sentral dalam film ini, fokus cerita Skyfall lebih menyorot karakter M dan masa lalunya. Bisa dikatakan, mungkin ini adalah screen time M paling banyak dalam sebuah film Bond.

Read More